Nanang Martono

learning, sharing …

Teori Klasik mengenai Perubahan Sosial

August 25th, 2011 by Nanang Martono

Teori klasik dalam sosiologi dimaknai sebagai teori yang mengawali munculnya berbagai studi kemasyarakatan (sosiologi), kemudian teori ini juga menjadi dasar bagi munculnya teori-teori yang lahir sesudahnya. Kajian mengenai sosiologi sebenarnya telah dimulai sejak abad ke-14, diawali dengan pemikiran Ibnu Khaldun (lahir tahun 1332). Meskipun Khaldun tidak menyebut pemikirannya adalah pemikiran yang sosiologis, namun sebenarnya pemikirannya sangat sosiologis. Ia tidak memakai terminologi sosiologi, namun ia banyak menggunakan konsep-konsep dalam sosiologi, seperti konsep masyarakat dan solidaritas sosial. Pemikiran Khaldun juga dikenal dalam disiplin ilmu politik, agama, sejarah dan filsafat.

Studi perubahan sosial dalam sosiologi dapat dikategorikan ke dalam kajian makrososiologi dan mikrosoisologi. Makrosoisologi merupakan sosiologi yang mempelajari pola-pola sosial berskala besar terutama dalam pengertian komparatif dan historis, misalnya antara masyarakat tertentu, atau antara bangsa tertentu. Pokok kajian makrososiologi banyak memusatkan perhatian pada aspek sistem sosial, bagaimana sistem sosial bekerja. Mikrososiologi lebih memberikan perhatian pada perilaku sosial dalam kelompok dan latar sosial masyarakat tertentu. Fokus kajiannya lebih banyak pada interaksi sosial, terutama interaksi secara tatap muka. Definisi tersebut menyiratkan bahwa studi mengenai perubahan sosial dapat dikategorikan pada dua kategori tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa studi perubahan sosial memiliki dua dimensi, meliputi makrososiologi maupun mikrososiologi.

Studi mengenai perubahan sosial mengalami perkembangan yang sangat pesat pada abad ke-20, seiring terjadinya Revolusi Industri di Inggris. Banyak teoritikus yang memusatkan perhatiannya mengenai perubahan sosial yang muncul akibat terjadinya revolusi tersebut. Revolusi Industri telah mengubah masyarakat dari yang semula bergantung pada kondisi alam, yang dikenal dengan masyarakat agraris atau masyarakat praindustri, berubah menjadi masyarakat yang bergantung pada kecanggihan teknologi, disebut masyarakat industri. Banyak perubahan yang terjadi akibat perubahan tipe masyarakat ini. Tokoh-tokoh yang memfokuskan pada gejala sosial ini di antaranya adalah Comte, Durkheim, Spencer, Marx, Weber, Parsons serta Tonnies. Pemikiran mereka banyak menjadi bahan kajian yang kemudian memunculkan berbagai kajian mengenai gejala perubahan sosial di abad selanjutnya.

Secara makro, studi mengenai perubahan sosial dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok pemikiran, yaitu kelompok teori yang dikategorikan dalam teori evolusi, teori siklus, teori fungsional, dan teori konflik. Teori evolusi. Teori ini berpendapat bahwa perubahan sosial memiliki arah yang tetap yang dilalui oleh semua kelompok masyarakat. Setiap masyarakat melewati urutan yang sama dan bermula dari tahap perkembangan awal menuju ke tahap perkembangan terakhir. Ketika tahap terakhir telah tercapai, maka perkembangan masyarakat juga akan berakhir (Horton dan Hunt, 1992). Teoritikus yang termasuk kelompok teori ini adalah Comte, Spencer, serta Marx.

Teori siklus. Teori ini melihat bahwa ada sejumlah tahap yang harus dilalui setiap masyarakat, namun mereka berpandangan bahwa proses peralihan tersebut bukanlah akhir dari proses perubahan yang sempurna. Akan tetapi, proses peralihan tersebut akan kembali ke tahap semula untuk kembali mengalami peralihan (Horton dan Hunt, 1992). Teori siklus yang akan dijelaskan dalam bab ini adalah teori yang dikemukakan Khaldun.

Teori fungsional. Teori fungsional memiliki asumsi utama yaitu melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang di dalamnya terdapat subsistem. Teori ini mengambil analogi masyarakat sebagai sebuah sistem organik (makhluk hidup), sebagai contoh adalah organisme manusia. Manusia merupakan sebuah sistem biologis yang terdiri atas sub-subsistem; di dalamnya ada tangan, kaki, jantung, mata, hidung dan sebagainya. Keseluruhan bagian tersebut harus berfungsi dengan baik sesuai tugas dan perannya masing-masing.  Masing-masing tugas dan peran subsistem tersebut tidak dapat saling menggantikan. Apabila terdapat salah satu bagian yang tidak berfungsi dengan baik, maka manusia tersebut mengalami kondisi abnormal, atau mengalami kondisi “sakit”.

Konsep penting dalam teori ini adalah struktur dan fungsi, yang menunjuk pada dua atau lebih bagian atau komponen yang berbeda dan terpisah tetapi berhubungan satu sama lain. Struktur sering dianalogikan dengan bagian-bagian anggota badan manusia, sedangkan fungsi menunjuk bagaimana bagian-bagian ini berhubungan dan bergerak. Struktur terdiri atas beberapa bagian yang saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain. Struktur sosial terdiri atas berbagai komponen dalam masyarakat, seperti kelompok-kelompok, keluarga-keluarga, masyarakat setempat/lokal, dan sebagainya. Teoritikus yang pemikirannya termasuk dalam teori ini adalah Durkheim, Parsons, Tonnies, serta Spencer.

Teori konflik. Teori konflik memiliki pandangan yang berbeda. Teori konflik menekankan adanya perbedaan pada diri individu dalam mendukung suatu sistem sosial. Menurut teori ini, masyarakat terdiri atas individu yang masing-masing memiliki berbagai kebutuhan yang terbatas. Kemampuan individu untuk mendapatkan kebutuhanpun berbeda-beda. Adanya perbedaan kemampuan inilah yang kemudian dapat melahirkan proses perubahan sosial. Sosiolog yang pemikirannya termasuk dalam teori ini adalah Marx dan Weber.

selanjutnya baca:  Nanang Martono. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial. Jakarta: Rajawali Pers.

Posted in Ragam