Nanang Martono

learning, sharing …

Haruskah kuliah pakai sepatu dan kemeja?

June 11th, 2010 by Nanang Martono

Proses pendidikan pada dasarnya memiliki fungsi untuk melakukan sebuah penyadaran, penambah pengetahuan atau merubah sikap individu menuju ke arah yang lebih baik. Sering kali, berbagai  peraturan di lembaga pendidikan formal, mengeluarkan bebagai peraturan yang “tidak masuk akal” dan cenderung tidak sesuai dengan hakikat dan tujuan dasar proses pendidikan itu sendiri.

Dengan berdalih “mendisiplinkan” siswa atau mahasiswa, hampir setiap sekolah formal mengeluarkan aturan untuk “menyeragamkan” penampilan.  Peraturan tersebut misalnya adalah: memakai seragam (warna merah-putih untuk siswa SD; biru-putih untuk SMP serta abu-abu-putih untuk SMA, atau pada beberapa hari tertentu, wajib mengenakan pakaian batik). Tak heran, keberadaan aturan tersebut justru menjadi lahan bagi sekolah untuk memungut biaya lebih pada siswa baru, misalnya, siswa baru diwajibkan membeli seragam melalui sekolah.

Peraturan lain yang kadang tidak masuk akal adalah, di lingkungan kampus, mahasiswa sering kali diwajibkan memakai kemeja atau baju berkerah, dan bersepatu. Mengapa aturan tersebut dikatakan tidak masuk akal? Jawabnya: apa hubungan otak dan sepatu? Kita berpikir memakai otak, lalu mengapa yang “diselimuti” justru kaki? Apakah dengan berkemeja dan bersepatu, mahasiswa dijamin pintar dan lulus dengan cepat? Yang lebih tidak masuk akal, ada beberapa perguruan tinggi yang “pamer”, mahasiswanya kuliah pakai jas atau pakai dasi.

Bagi siswa atau mahasiswa dari kelas bawah, keberadaan peraturan tersebut cukup memberatkan. Untuk siswa SD, memang pemerintah menggratiskan biaya pendidikan. Namun yang perlu diingat, biaya pendidikan bukan saja biaya SPP. Biaya di luar SPP sebenarnya jauh lebih basar dari biaya SPP, misalnya: biaya transportasi, membeli seragam, membeli sepatu, buku tulis dan sebagainya. Selain itu, peraturan tersebut sangat tidak memiliki dasar filosofi yang kuat, alias mengada-ada saja. Formalisasi pendidikan justru tidak berakar dari hakikat dasar proses pendidikan itu sendiri.

Kembali pada kasus mahasiswa, bila dalihnya adalah untuk melatih mereka memasuki dunia kerja yang serba formal, maka pertanyaannya: “apakah setiap mahasiswa tahu, mau kemana mereka setelah lulus?”; “setelah lulus mau kem mana?” Sebagian besar mahasiswa pasti akan menjawab “yang penting kerja”. Dan tidak semua pekerjaan harus memakai kemeja dan sepatu. Jadi, untuk apa memaksa mereka “latihan” berkemeja dan bersepatu setiap hari?

So, kesimpulannya, untuk apa kuliah pakai kemeja dan pakai sepatu? Bukankah belajar yang penting adalah ilmunya??

Posted in Sosiologi Pendidikan