Nanang Martono

learning, sharing …

Menilik TK di Prancis

March 24th, 2015 by Nanang Martono

Ternyata, tidak benar bahwa sekolah di luar negeri menyenangkan. Buktinya, sekolah di Indonesia lebih baik daripada sekolah di Perancis. Setelah mengetahui sisi dalam pendidikan taman kanak-kanak (TK) di Perancis, Dosen Sosiologi Pendidikan FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Nanang Martono, memutuskan semakin yakin untuk lebih baik menyekolahkan anaknya di Indonesia.

“Banyak orang berpendapat bahwa sistem pendidikan di Barat selalu lebih baik dari Indonesia. Pandangan tersebut sebenarnya tidak selamanya benar,” tegas Nanang Martono dalam rilisnya kepada Obsessionnews.com, Senin (23/5), menguraikan pengalamannya dari Perancis.

Saat ini Nanang Martono sedang melanjutkan pendidikan program doktor pada perguruan tinggi di Perancis, tepatnya di Departemen Ilmu Pendidikan Universite de Lyon 2, France. Sebelum tinggal di Perancis, anak Nanang Martono telah bersekolah di taman bermain Islam Qoriyah Thoyibah (TB Qita) Purwokerto Jawa Tengah selama dua tahun.  Kemudian, Nanang mencoba memasukkan anaknya ke TK di Perancis.  Namun, meski anaknya bersekolah di Perancis kurang dari setahun, namun ia kadang merasa tidak betah.  Apa sebabnya?

Berawal dari pengamatan Nanang Martono di dua sekolah yang menjadi tempat sekolah anaknya (Indonesia dan Perancis).  Ia ingin sedikit bercerita tentang sistem pendidikan TK di Perancis.  Perancis adalah negara yang menganut sistem pendidikan sekuler dan sentralistis.  Semua kebijakan pendidikan diatur oleh pemerintah pusat.  “Ini berbeda dengan Indonesia yang menganut sistem otonomi.  Sekolah di Perancis adalah murni pelaksana teknis.  Semua instrumen pembelajaran di TK telah disiapkan pemerintah secara standar,” jelas Nanang.

Berikut penututuran Nanang Martono:
Sekolah negeri di Perancis semuanya adalah gratis untuk TK sampai SMA, termasuk bagi warga negara asing yang bersekolah di Perancis, termasuk anak Nanang Martono.  Sebagian sekolah TK adalah TK negeri, dan sangat sedikit sekali TK swasta. Selain itu, Perancis juga menerapkan sistem regionalisasi, sehingga setiap anak harus bersekolah di sekolah yang terdekat dengan tempat tinggalnya.  Salah satu syarat mendaftar TK di Perancis adalah surat keterangan domisili, termasuk kuitansi pembayaran sewa apartemen, pembayaran listrik, telepon, dan pajak rumah.

Di TK, siswa dikelompokkan menjadi tiga tingkat: petite section (kelas kecil, untuk 3 tahun), moyenne section (kelas menengah, untuk 4 tahun), grande section (kelas besar, untuk 5 tahun).  Dasar pengelompokkan adalah tahun lahir siswa, sehingga siswa yang lahir di tahun yang sama, akan dimasukkan di kelas yang sama tanpa memperhatikan bulan lahirnya.  Siswa yang lahir pada tanggal 1 Januari 2010 dan siswa yang lahir pada 31 Desember 2010, akan berada di kelas yang sama.

Apa yang dilakukan anak di sekolah?  Anak masuk sekolah pada pukul 08.30, mereka wajib diantar orang tua atau orang yang diberi kepercayaan untuk mengantar mereka.  Orang tua mengantarkan anaknya sampai depan pintu kelas.  Kemudian, anak masuk ke kelas.  Di kelas, ada dua orang yang mengelola kelas, yaitu seorang guru kelas (atau disebut maitres) dan seorang ATSEM (atau l’Agent Territorial Spécialisé des Écoles Maternelles –petugas daerah khusus taman kanak-kanak).

ATSEM dapat diposisikan sebagai asisten guru kelas yang bertugas mengabsen siswa, menyiapkan perlengkapan pembelajaran, mengantar anak ketika ada anak yang ingin ke toilet (bila anak perlu diantar), dan sebagainya.  Intinya, ia bertugas membantu guru kelas.

Anak belajar di sekolah mulai pukul 08.30 sampai 11.20. kemudian anak istirahat di rumah (dijemput orang tua), atau makan siang di kantin sekolah bagi anak-anak yang tidak pulang. Kemudian, mereka kembali masuk kelas pada pukul 13.45 sampai 16.00.  Selama di sekolah, siswa lebih banyak beraktivitas di kelas.  Hampir tidak ada aktivitas di luar ruangan seperti bermain pasir, tanah, atau air kecuali pada saat jam istirahat.  Ketika itu anak dibebaskan bermain, itupun hanya bermain olah raga, ayunan, plosotan, atau alat-alat bermain lainnya yang disiapkan sekolah.

Di kelas guru memberikan tugas-tugas untuk siswa.  Namun, sebagian besar tugas tersebut tidak lepas dari aktivitas menggambar, menulis, mewarnai, dan menyanyi.  Bahkan sedikit anak diberi ruang untuk menggambar bebas. Materi yang digunakan untuk menggambar telah ditentukan guru.  Misalnya: anak diminta menggambar pola, menghubungkan titik-titik, yang semuanya itu diarahkan untuk membekali anak menulis.  Siswa diminta menggambar pola mirip huruf U saling bersambungan atau huruf U terbalik, atau menggambar pola segitiga yang sebenarnya nanti diarahkan untuk menulis huruf V.

Kompetensi yang diharapkan sangat memprioritaskan aspek kognitif dan penguatan logika.  Misalnya: anak diminta meneruskan gambar yang telah ditentukan polanya (rumah-apel-jeruk), lalu siswa diminta meneruskan menggambar pola yang sama (rumah-apel-jeruk/rumah-apel-jeruk/dan seterusnya).  Bila siswa menggambar pola yang salah (tidak sesuai aturan, atau terbalik, tidak urut), guru langsung memberikan tanda silang merah atau simbol-simbol tertentu.  Bahkan, siswa kelas kecil (petite section) juga telah dikenalkan dengan angka-angka melalui lembar kerja.

Maksud pembelajaran ini sebenarnya adalah mengajarkan cara berpikir logis atau mengajarkan logika kepada anak sejak kecil.  Dampak yang diharapkan adalah ketika masuk ke jenjang berikutnya, ia mampu berpikir logis serta mampu mengemukakan pendapatnya secara bebas.  Beda pendapat dengan guru (atau dosen) di Perancis adalah hal biasa, dan ini sangat dianjurkan agar mereka mampu menjadi individu kritis.

Muatan “pelajaran” sopan santun hanya berkutat pada pembelajaran masalah penggunaan kata “bonjour” (selamat pagi) dan ucapan-ucapan sehari-hari yang kemudian ucapan ini lebih dimaknai sebagai basa basi belaka, kemudian “pardon” (maaf), “s’il vous plait” (mohon atau tolong), “au revoir” (sampai jumpa), dan “merci” (terima kasih); tidak ada yang lain.

Mengapa Nanang Martono katakan hanya basa basi, karena setiap orang di Prancis (dan di Barat pada umumnya) terbiasa mengucapkan kata-kata salam ini secara “mekanis” dan “otomatis”.  Bahkan mereka terbiasa mengucapkan “bonjour” sambil memalingkan muka tanpa melihat orang yang disalaminya. Ini tentu saja berbeda dengan makna salam di Indonesia yang digunakan sebagai simbol kedekatan dan keramahan orang Indonesia.

Anak-anak seolah tidak diajarkan apa mengenai hakikat dan fungsi sosial salam.  Bagi mereka, salam hanya ucapan biasa yang wajib diucapkan ketika bertemu orang.  Tidak lebih dari itu.  Ajaran toleransi juga tidak diajarkan di sekolah. inilah salah satu kelemahan pendidikan di Eropa, yaitu pendidikan nilai mendapatkan porsi sedikit dalam proses pembelajaran.

Lalu, kita bisa lihat bagaimana masyarakat Barat kemudian menjadi sangat individualis, egois, dan isu rasisme lebih banyak muncul di sana.  Bahkan menteri pendidikan Perancis sempat menyatakan bahwa sekolah di negaranya telah gagal menanamkan nilai kesetaraan.  Akibatnya, anak-anak kurang bisa menghargai perbedaan.  Sentimen agama juga menguat di kalangan masyarakat kelas atas maupun kelas bawah.  Ini sangat berbeda dengan Indonesia. pengakuan terhadap kelompok minoritas juga sulit dilakukan.  Tidak ada saling tegur sapa selain ucapan salam.  Ketika berada di angkutan umum, semua terdiam.  Sangat individualis.  Ini karena aspek pendidikan nilai (pendidikan moral) bukan menjadi prioritas di Perancis.

Beberapa kali Nanang Martono melihat bagaimana guru menasehati dan menggertak siswa di depan siswa lainnya dengan suara yang sangat keras. Bahkan, sering hal ini dilakukan di depan orang tua ketika mereka menjemput anak-anaknya.  Bila ini ada di Indonesia, si guru pasti sudah mendapat banyak kritikan.

Positifnya adalah anak kemudian menjadi pribadi yang kuat dan tidak cengeng.  Anak TK sudah dibiasakan mandiri.  Para orang tua juga lebih suka membiarkan anak-anak mereka ketika mengantarkan sekolah.  Anak dibiarkan melepas jaket sendiri.

Bagaimana komunikasi orang tua dan guru? tidak ada ajang komunikasi khusus.  Ketika ada pertemuan guru dan orang tua, itu bukan membahas masalah perkembangan atau masalah belajar masing-masing siswa di kelas. Pertemuan ini membahas agenda sekolah selama beberapa waktu.

Di akhir masa pembelajaran (sebelum libur musim), guru hanya memberikan sebendel hasil pekerjaan siswa selama periode tertentu.  Dalam bendel tersebut guru juga memberikan informasi tertulis mengenai kompetensi apa saja yang sudah tercapai dan belum tercapai oleh anak.  Tidak ada deskripsi kualitatif, yang ada hanya deskripsi “baik”, “belum tercapai”, atau “perlu perhatian” dengan menggunakan simbol-simbol tertentu.

Setiap semester ada pemeriksaan kesehatan bagi siswa.  Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter khusus sekolah.  Disebut dokter khusus karena dokter tersebut memang berkantor di bagian kesehatan sekolah.  Saat pemeriksaan kesehatan ini, siswa harus didampingi oleh orang tuanya.

Hal yang menarik dengan sistem pendidikan di Perancis adalah pada masalah hari libur.  Siswa-siswa TK sampai SMA di Prancis hanya bersekolah kurang lebih delapan bulan dalam setahun. Banyak hari libur sekolah di sini, yaitu: libur musim gugur di bulan Oktober (2 minggu), libur musim dingin di bulan Desember (2 minggu), libur musim semi di bulan Februari (2 minggu), libur musim panas di bulan April (2 minggu), dan liburan tahun ajaran baru selama dua bulan (Juli sampai Agustus).  Ini belum termasuk libur di hari Sabtu dan tanggal merah dan hari “terjepit” di antara dua tanggal merah. Bila ditotal, hari efektif sekolah hanya sekitar enam bulan saja.

“Jadi, tidak semua yang berbau Barat adalah baik dan tepat diterapkan di Indonesia. silakan dipilih mana saja yang cocok dan mungkin bisa diterapkan di Indonesia,” tutup Nanang Martono.

Sumber: http://obsessionnews.com/ternyata-sekolah-di-barat-lebih-buruk-dari-indonesia/

Posted in Ragam