Nanang Martono

learning, sharing …

Cuci Gudang

February 19th, 2015 by Nanang Martono

Gudang adalah tempat menyimpang barang-barang yang sudah tidak terpakai, atau barang-barang bekas. Namun di Prancis, gudang disulap menjadi sebuah pesta, “pesta gudang” (vide grenier – pengosongan gudang, atau cuci gudang). Namun, pesta yang satu ini bukanlah sebuah pesta yang berisi hingar bingar orang, yang menikmati berbagai macam makanan dan minuman, atau menikmati berbagai atraksi tarian, nyanyian, atau musik.

Dalam pesta ini, setiap pengunjung pesta akan disuguhi banyak barang-barang bekas, sesuai dengan namanya “pesta cuci gudang”. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, pesta ini sama dengan “pasar loak”. Di Indonesia, pasar loak berisi barang-barang bekas yang dijual dengan harga sangat murah dan identik dengan tempat jual beli barang-barang yang sudah sangat tidak layak pakai, sedangkan di Prancis, barang-barang bekas (brocante) yang dijual justru masih dalam kondisi sangat bagus dan layak pakai, tentu saja dengan harga yang jauh dengan harga barang baru.

s2

Barang bekas di sini dijual dengan harga mulai 0,10 euro, 0,25 euro, 0,50 euro, 1 sampai 5 euro, bahkan ada yang masih dijual dengan harga di atas 20 euro, tergantung jenis dan kualitas barang bekas yang ditawarkan. Bahkan beberapa barang yang sudah berkarat pun masih bernilai tinggi.

Ada banyak barang bekas yang ditawarkan, mulai sandal, sepatu, lap pel, barang pecah belah, panci, wajan, mainan anak, buku, kemeja, tas, celana, sampai jaket, karpet, sajadah, sepeda, compact disc, kompor gas, dan barang-barang elektronik, dari charger HP, radio, micro wave, televisi, bahkan mesin cuci. Semuanya dijual di satu tempat, digelar di bawah menggunakan tikar, ada pula yang memajang barang-barangnya di atas meja.

s1

Sebagai mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di negara ini dan tinggal bersama keluarga, pasar barang bekas menjadi tempat favorit saya untuk mencari perlengkapan rumah yang dibutuhkan. Sayang rasanya bila harus membeli barang baru, sementara saya hanya tinggal di Prancis dalam beberapa tahun saja. Bila ternyata perlengkapan rumah yang saya cari tidak ada di pasar ini, alternatifnya adalah saya mencarinya melalui pasar barang bekas online (leboncoin.fr) (semacam tokobagus.com atau berniaga.com di Indonesia).

Bila saya tetap tidak menemukan barang yang dimaksud, terpaksa saya menggunakan alternatif berikutnya, yaitu membeli barang baru, kemudian ketika saya harus kembali ke Indonesia, saya berniat menjualnya ke “brocante” atau “leboncoin” tersebut. Jadi, keberadaan pasar barang bekas memiliki dua manfaat bagi saya, yaitu sebagai tempat membeli barang bekas, serta tempat menjual berbagai perlengkapan rumah yang tidak mungkin saya bawa pulang ke Indonesia.

Secara umum, ada dua tempat penjualan barang bekas ini. Ada pasar yang memiliki tempat menetap (bahkan mirip supermarket), dan ada pula yang buka di hari tertentu dan di tempat tertentu pula. Waktu dan tempatnya seringkali tidak rutin. Biasanya pihak penyelenggara akan memasang pengumuman di tempat umum mana kala akan ada pesta cuci gudang di wilayah tersebut. Pesta ini berlangsung selama setengah hari, dari pagi sampai sore hari.

s3

Kita tidak perlu khawatir membeli barang bekas di sini. Sebagian besar pedagang di sini bersifat jujur dan fair. Pernah suatu kali saya membeli mainan bekas untuk anak saya dengan harga 2 euro. Awalnya ia mengatakan bahwa mainan tersebut masih bisa digunakan. Setelah membelinya, saya  masih mengelilingi pedagang yang lain. lalu, tiba-tiba penjual mainan tadi datang menghampiri saya dan mengatakan bahwa ternyata mainan tersebut sudah rusak. Sebagai gantinya, dia mengembalikan uang 2 euro, dan mainan tadi tetap boleh saya bawa pulang. Saya juga beberapa kali mendapatkan barang yang lain secara gratis tanpa menawar, meski kondisinya masih sangat bagus. Kemudian, meskipun hanya menjual barang bekas, para pedagang juga fair. Jika barang yang dibeli ternyata tidak berfungsi setelah dicoba di rumah, mereka tetap menerima pengembalian barang, tentu saja dengan kesepakatan sebelumnya.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah, meskipun harga barang baru relatif lebih murah (dibandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat Prancis), namun membeli barang bekas tetap menjadi pilihan. Tidak ada rasa gengsi bagi mereka. Konsumen barang bekas tidak hanya didominasi kalangan menengah ke bawah, tapi juga banyak kalangan menengah ke atas yang ikut berebut barang bekas di sini. Bahkan ada yang datang dari luar daerah sekitar hanya untuk memburu barang bekas. Ada yang datang mengendarai mobil untuk membeli kompor, sepeda, dan perlangkapan lain yang sulit dibawa bila harus menggunakan angkutan umum.

Kemudian, keberadaan pasar bekas ini juga digunakan untuk menanamkan semangat berwirausaha kepada anak-anak. Para penjual di pasar ini tidak hanya orang dewasa, akan tetapi, kita dengan mudah menemukan anak-anak yang turut menggelar dagangannya di pasar ini. Mereka menjual mainan, buku-buku cerita, atau barang-barang ringan lainnya. Anak-anak tersebut ada yang berjualan sendiri, ada pula yang hanya membantu orang tuanya. Si orang tua menawarkan pakaian bekas, sementara si anak menawarkan mainan dan buku-bukunya.

s4

Jadi, bila Anda sedang mencari berbagai perlengkapan rumah, dan Anda tidak tinggal selamanya di Prancis, atau Anda ingin mencari barang supermurah, jangan terburu-buru datang ke supermarket. Cobalah berburu barang bekas dengan “kualitas baru, harga bekas”.

Posted in Ragam