Nanang Martono

learning, sharing …

Facebook dan Dunia Nyata

February 1st, 2014 by Nanang Martono

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkritik, menyindir orang, atau individu tertentu, atau teman yang berteman dengan saya melalui Facebook (FB). Tulisan ini saya tulis juga untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan oleh banyak pengguna FB, termasuk diri saya sendiri sebagai pengguna FB.

index

Sebagian besar di antara kita pasti telah mengenai FB. Sebuah media sosial (atau istilah yang sedang marak digunakan adalah medsos atau dumay –dunia maya) yang memfasilitasi setiap orang di sleuruh dunia dengan mudah. Untuk mengakses FB, para pengguna harus memiliki perangkat berupa komputer atau handphone (HP) yang dilengkapi dengan fasilitas internet. Selain itu, mereka juga harus memiliki sebuah email. Secara umum, FB memang relatif lebih praktis, lebih privat (dengan fasilitas pengaturan ‘privasi’).

Sebagai media sosial, FB memiliki fungsi yang hampir sama dengan interaksi sosial tatap muka. Apalagi setelah FB melengkapi dirinya dengan fasilitas ‘panggilan video’. Nyaris, fasilitas ini dapat menyamai Skype dan Yahoo Messangger yang pernah populer sebelumnya. Melalui fasilitas ini, para pengguna FB dapat berkomunikasi ‘tatap muka’ dengan kamera.

Melalui FB, setiap orang dapat mencurahkan seluruh isi hatinya: sedih, senang, cemburu, sakit hati, jatuh cinta, kangen, dan lain sebagainya. FB juga dapat menjadi sarana bertukar informasi, termasuk menyampaikan kritik kepada pihak tertentu. Akhirnya, FB adalah segalanya. Ia selalu berupaya memenuhi kebutuhan para penggunanya.

Bila mengacu pada tipologi kebutuhan manusia ala Bloom, FB dapat memenuhi kebutuhan seseorang akan eksistensi diri. Pengguna dapat ‘mempromosikan dirinya’ secara bebas. Bagi yang sedang jalan-jalan ke luar negeri, atau sedang berlibur ke suatu daerah, mereka dapat langsung mengunggah foto-foto selfi-nya di FB. Foto-foto berlatar tempat tertentu diunggah si pengguna.

Bagi yang baru saja membeli mobil baru, langsung memasang gambar dirinya di depan mobil, atau dalam posisi ‘sedang menyetir’, atau ‘mencuci mobil’. Entah, saya tidak ingin berburuk sangka, apa yang ingin ditekankan pada si pengunggah. Apakah ingin menunjukkan ‘dia bisa menyetir’ atau ‘dia sedang mencuci mobil’, atau ada maksud tersembunyi, ingin menunjukkan ‘saya sudah punya mobil’.

Bagi yang suka masak, mereka dapat mengunggah hasil kreasi masakannya. Bagi yang suka berceramah, mereka menulis di dinding FB ‘kata-kata bijak penuh makna’ yang ia kutip dari media lain, atau mengutip ayat Al Quran, atau hadist.

FB juga menjadi sarana promosi. Promosi barang, hasil karya (artikel, buku, cerpen, atau yang lain) yang layak diketahui atau dibaca orang lain.

FB juga selalu mengingatkan para penggunanya bila ada teman yang sedang merayakan ulang tahun. Seketika itu pula, teman-teman kita berbondong-bondong mengucapkan selamat ulang tahun. Ada yang singkat (hanya menulis “HBD”, “met ultah”), ada pula yang bersemangat dengan menambahkan berbagai doa dan harapan. Bila kita dalam posisi “yang sedang ultah” kita wajar bila bertanya, “ikhlaskah mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepada kita?” Seandainya FB tidak memberitahu, akankah teman-teman kita tetap memberikan perhatian, alias apakah mereka masih mengingat tanggal lahir kita lalu mengucapkan selamat ulang tahun? Jawabannya mungkin hanya teman tertentu saja yang masih ingat.

Sifat orang juga dapat ditebak melalui FB. Ini dapat diketahui melalui statusnya atau melalui ‘perilaku mereka’ meskipun secara tidak langsung. Sebagai contoh, kita dapat menebak jikalau seseorang sedang ‘iri’ dengan temanya (atau bahkan dengan diri kita). Misalnya: bila temannya sedang mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan, ia tidak pernah memberikan komentar atau sekedar tag-like. Di sisi lain, dia sendiri sering menginformasikan di FB bahwa dirinya sedang dilanda bahagia karena sesuatu hal. Memang ini tidak dapat menjadi bukti, namun setidaknya, bila hal ini terjadi berulang kali, ini dapat menjadi indikasi bahwa seseorang tersebut ‘ada‘sesuatu’ dengan temannya.

Sama halnya dengan dunia nyata. Di FB juga dikenal “hukum-hukum dalam dunia nyata”. Orang yang tidak pernah memberikan komentar pada status teman-temannya, kadang kala, statusnya juga jarang dikomentari teman-temannya. Seolah-olah di FB ada hukum aksi reaksi, siapa memberi, dia akan menerima. Siapa memberi memberikan komentar, dia akan sering dikomentari. Bila saya perhatikan, ada teman-teman saya, ketika membuat status hampir tidak ada yang memberikan komentar. “Ada apa dengan si dia”. Memang, bila seseorang sering meng-up date status atau mengunggah foto, dapat menimbulkan ‘kebosanan’ bagi teman-temanya: “yang muncul di FB dia lagi, dia lagi…”. Orang akan malas mengomentari. Untuk itu, janganlah terlalu sering menulis status, atau mengunggah foto. Bila sering mengunggah foto selfi-nya, maka yang terjadi adalah kita dianggap narsis.

Dalam dunia nyata, orang yang sering up date status diibaratkan sebagai orang yang sering bertamu ke rumah orang lain. Bagaimana rasanya bila kita selalu didatangi orang-orang itu setiap hari. Apalagi bila ‘kedatangan’ dia hanya untuk memberikan informasi ‘yang ga penting banget’. Hanya memberi tahu ‘aku ngantuk’, ‘BT’, ‘banyak nyamuk’, dan lain sebagainya. Sekali lagi, menulis status apapun memang hak pemilik akun, tapi hormatilah ‘dinding’ orang lain. Janganlah terlalu sering meng-up date status yang tidak penting.

FB memang hanya dimiliki orang-orang dari golongan tertentu saja. Sebut saja pengguna FB hanya orang golongan menengah ke atas saja. Merekalah yang menguasi teknologi, sehingga mampu memanfaatkan FB untuk berinteraksi.

Muncul dalam pikiran saya, ketika orang-orang kelas bawah diberi kesempatan untuk menggunakan FB, kira-kira apa yang akan mereka tulis dalam statusnya? Atau foto apa yang akan mereka unggah? Saya tidak bermaksud merendahkan mereka, akan tetapi, saya ingin mengajak kita untuk berpikir sejenak, dan menengok teman-teman kita yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses FB. FB tetaplah barang asing bagi mereka. FB tetaplah barang mahal. Inilah yang disebut sebagai ‘teknologi hanyalah milik orang kaya’.

Paragraf terakhir ini hanyalah sebuah bahan renungan…

Posted in Ragam