Nanang Martono

learning, sharing …

Dunia yang Berbeda

December 26th, 2013 by Nanang Martono

Gay. Ketika mendengar istilah ini, sebagian besar masyarakat kita akan serta merta memvonis dengan sebutan “dosa”, “haram”, “abnormal”, dan sebutan lain untuk mengucilkan “penderita” homoseksual. Homoseksual menurut agama (Islam) memang merupakan sebuah dosa dan hukumnya haram. Manusia diciptakan menjadi dua jenis, laki-laki dan perempuan, agar mereka dapat saling melengkapi. Mereka diciptakan untuk menciptakan keturunan mereka, yang akan melanjutkan generasi mereka di masa yang akan datang.

2013-05-15T083235Z_596474694_GM1E95F19TE01_RTRMADP_3_KOREA-GAY-MARRIAGE

Fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan transeksual) bukanlah sebuah fenomena baru. Meskipun demikian pandangan atau persepsi masyarakat mengenai fenomena ini seolah sulit diubah. Mereka masih memosisikan LGBT sebagai kelompok yang harus dijauhi karena dianggap dapat merusak mental generasi berikutnya.

Institusionalisasi LGBT secara “formal” dimulai di negara-negara Barat yang cenderung liberal. Mereka mengatasnamakan HAM (Hak Azasi Manusia) untuk melegalkan keberadaan LGBT ini. Dan bahkan, beberapa negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis dalam hukum positif mereka. Di Indonesia, tentu saja upaya ini akan ditentang sangat keras, meskipun ada banyak pihak yang menyuarakan tentang pengakuan HAM. Namun, penulis tidak bermaksud untuk meminta pemerintah kita melakukan langkah yang sama.

Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan beberapa pesan moral mengenai keberadaan LGBT ini, terutama dalam konteks Indonesia secara sosiologis.

Normalitas Relatif

Mereka yang sekarang menjadi gay atau lesbi, sebenarnya bukanlah keinginan mereka sendiri. Ada yang disebabkan pengalaman psikologis (misalnya: pernah disakiti lawan jenis), atau mereka mengalami kelainan hormonal. Secaa fisik mereka laki-laki, namun secara hormonal mereka dominan perempuan, atau sebaliknya. Sehingga, perilaku mereka menjadi “berbeda” dengan individu “normal”. Inilah yang kemudian menyebabkan mereka dipandang “abnormal”.

Abnormalitas di sini memang bermakna subjektif, karena yang menilai “normal” dan “tidak normal” adalah “orang normal”. Stereotipe LGBT adalah “abnormal” justru akan membuat mereka semakin terpinggirkan, yang kemudian memotivasi mereka membentuk sebuah kelompok sendiri yang “normal” menurut mereka. Mereka hidup dalam dunia mereka sendiri, jauh dari kehidupan orang-orang yang mengklaim dirinya “normal”. Sementara kelompok “normal” juga hidup dalam komunitasnya dan semakin jauh dengan LGBT.

LGBT bersifat sosial

Masalah LGBT bukanlah masalah bagi “si penderita”, melainkan masalah sosial yang melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Artinya, untuk meminimalisasi kecenderungan berkembangnya jumlah LGBT, diperlukan peran aktif masyarakat secara umum. Pada hakikatnya, tidak ada orang yang “bercita-cita” untuk menjadi seorang gay ataupun lesbian. Mereka sebenarnya hanyalah “korban” masalah mental, psikologis, dan biologis.

Tindakan masyarakat yang menjauhi kelompok gay dan lesbian sebenarnya menyebabkan penderitaan mereka semakin panjang. Mereka sebenarnya perlu bergaul dengan individu “normal”. Interaksi sosial antara mereka dan individu “normal” dapat mengurangi beban penderitaan mereka.

Kaum gay dan lesbi memerlukan interaksi sosial dengan masyarakat luas dalam upaya “menyembuhkan” kelainan orientasi seksual mereka. Mereka memerlukan terapi karena gay dan lesbian bukanlah sebuah penyakit. Ia hanyalah sebuah gangguan kejiwaan yang dapat disembuhkan melalui serangkaian terapi psikologis.

Klaim kebenaran

Masyarakat “normal” selalu mengolok-olok gay dan lesbi dengan gelar “dosa”, “penghuni neraka”, dan segudang gelar negatif lainnya. Mereka seolah tidak sadar apakah seorang yang “normal” adalah orang yang jauh dari dosa? Apakah mereka juga yakin bahwa mereka adalah calon penghuni surga yang mampu mengalahkan gay dan lesbian?

Individu “normal” seolah lupa bahwa dosa, surga, dan neraka adalah urusan Tuhan. Kita tidak dapat mengklaim diri kita akan masuk surga, sedangkan mereka dijamin masuk neraka (?) Inilah yang patut menjadi bahan pembicaraan.

Justru orang-orang yang tidak bersimpati dengan gay dan lesbian adalah orang-orang yang tidak bermoral. Mereka telah membiarkan saudaranya terus terjerumus dalam “perilaku negatif” tanpa berupaya untuk mengubah kondisi mereka. Dan bahkan, mereka dengan sengaja mengucilkan mereka dari “lingkungan sosial yang normal”.

Sedikit tulisan ini mudah-mudahan dapat membuka mata hati kelompok “normalis” agar lebih bijak dalam memandang dan menyikapi keberadaan kaum gay dan lesbian. Satu yang pasti, tidak ada manusia di bumi ini yang ingin lahir menjadi gay dan lesbian.

Posted in Ragam