Nanang Martono

learning, sharing …

Sejarah Buku

September 24th, 2014 by Nanang Martono
membaca-buku

Ada berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku. Buku pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas papirus . Kertas papirus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama. Ada pula yang mengatakan buku sudah ada sejak zaman Sang Budha di Kamboja karena pada saat itu Sang Budha menuliskan wahyunya di atas daun dan kemudian membacanya berulang-ulang. Berabad-abad kemudian di Cina, para cendekiawan menuliskan ilmu-ilmunya di atas lidi yang diikatkan menjadi satu. Hal tersebut mempengaruhi sistem penulisan di Cina di mana huruf-huruf Cina dituliskan secara vertikal yaitu dari atas ke bawah.

Buku yang terbuat dari kertas baru ada setelah Cina berhasil menciptakan kertas pada tahun 200-an SM dari bahan dasar bambu di ditemukan oleh Tsai Lun. Kertas membawa banyak perubahan pada dunia. Pedagang muslim membawa teknologi penciptaan kertas dari Cina ke Eropa pada awal abad 11 Masehi. Disinilah industri kertas bertambah maju. Apalagi dengan diciptakannya mesin cetak oleh Gutenberg perkambangan dan penyebaran buku mengalami revolusi. Kertas yang ringan dan dapat bertahan lama dikumpulkan menjadi satu dan terciptalah buku. Pecinta buku biasanya dijuluki sebagai seorang bibliofil atau kutu buku.Terrdapat karya hebat para penulis yang dapat dianggap sebagai buku terbaik sepanjang masa peradaban manusia

Pada zaman kuno, tradisi komunikasi masih mengandalkan lisan. Penyampaian informasi, cerita-cerita, nyanyian, do’a-do’a, maupun syair, disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Karenanya, hafalan merupakan ciri yang menandai tradisi ini. Semuanya dihafal. Kian hari, kian banyak saja hal-hal yang musti dihafal. Saking banyaknya, sehingga akhirnya mereka kuwalahan alias tidak mampu menghafalkannya lagi. Hingga, terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan. Maka, lahirlah apa yang disebut sebagai buku kuno.

Buku kuno ketika itu, belum berupa tulisan yang tercetak di atas kertas modern seperti sekarang ini, melainkan tulisan-tulisan di atas keping-keping batu (prasasti) atau juga di atas kertas yang terbuat dari daun papyrus. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak tumbuh di tepi Sungai Nil

Mesir merupakan bangsa yang pertama mengenal tulisan yang disebut hieroglif. Tulisan hieroglif yang diperkenalkan bangsa Mesir Kuno bentuk hurufnya berupa gambar-gambar. Mereka menuliskannya di batu-batu atau pun di kertas papyrus. Kertas papyrus bertulisan dan berbentuk gulungan ini yang disebut sebagi bentuk awal buku atau buku kuno.

Selain Mesir, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat tulisan. Panjang gulungan papyrus itu kadang-kadang mencapai puluhan meter. Hal ini sungguh merepotkan orang yang menulis maupun yang membacanya. Karena itu, gulungan papyrus ada yang dipotong-potong. Papyrus terpanjang terdapat di British Museum di London yang mencapai 40,5 meter.

Kesulitan menggunakan gulungan papyrus, di kemudian hari mengantarkan perkembangan bentuk buku mengalami perubahan. Perubahan itu selaras dengan fitrah manusia yang menginginkan kemudahan. Dengan akalnya, manusia terus berpikir untuk mengadakan peningkatan dalam peradaban kehidupannya. Maka, pada awal abad pertengahan, gulungan papyrus digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kulit kayu yang keras yang dinamakan codex.

Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid.

Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden.Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat dengan ditulis tangan.

Penemuan Ts’ai Lun telah mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan. Sehingga, pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia.  Sebagai tindak lanjut penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang signifikan dari dunia perbukuan.

Penemu mesin cetak itu berkebangsaan Jerman bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg. Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.  Gutenberg memulai pembuatan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.

Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu, juga dikenal dengan buku kuno. Buku kuno itu ditulis di atas daun lontar. Daun lontar yang sudah ditulisi itu lalu dijilid hingga membentuk sebuah buku. Perkembangan perbukuan mengalami perubahan signifikan dengan diciptakannya kertas yang sampai sekarang masih digunakan sebagai bahan baku penerbitan buku. Pencipta kertas yang memicu lahirnya era baru dunia perbukuan itu bernama Ts’ai Lun. Ts’ai Lun berkebangsaan Cina. Hidup sekitar tahun 105 Masehi pada zaman Kekaisaran Ho Ti di daratan Cina.

sumber: http://m-nusaperpustakaan.blogspot.fr/2011/11/asal-usul-dan-sejarah-buku.html

Posted in Ragam | No Comments »

Facebook dan Dunia Nyata

February 1st, 2014 by Nanang Martono

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkritik, menyindir orang, atau individu tertentu, atau teman yang berteman dengan saya melalui Facebook (FB). Tulisan ini saya tulis juga untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan oleh banyak pengguna FB, termasuk diri saya sendiri sebagai pengguna FB.

index

Sebagian besar di antara kita pasti telah mengenai FB. Sebuah media sosial (atau istilah yang sedang marak digunakan adalah medsos atau dumay –dunia maya) yang memfasilitasi setiap orang di sleuruh dunia dengan mudah. Untuk mengakses FB, para pengguna harus memiliki perangkat berupa komputer atau handphone (HP) yang dilengkapi dengan fasilitas internet. Selain itu, mereka juga harus memiliki sebuah email. Secara umum, FB memang relatif lebih praktis, lebih privat (dengan fasilitas pengaturan ‘privasi’).

Sebagai media sosial, FB memiliki fungsi yang hampir sama dengan interaksi sosial tatap muka. Apalagi setelah FB melengkapi dirinya dengan fasilitas ‘panggilan video’. Nyaris, fasilitas ini dapat menyamai Skype dan Yahoo Messangger yang pernah populer sebelumnya. Melalui fasilitas ini, para pengguna FB dapat berkomunikasi ‘tatap muka’ dengan kamera.

Melalui FB, setiap orang dapat mencurahkan seluruh isi hatinya: sedih, senang, cemburu, sakit hati, jatuh cinta, kangen, dan lain sebagainya. FB juga dapat menjadi sarana bertukar informasi, termasuk menyampaikan kritik kepada pihak tertentu. Akhirnya, FB adalah segalanya. Ia selalu berupaya memenuhi kebutuhan para penggunanya.

Bila mengacu pada tipologi kebutuhan manusia ala Bloom, FB dapat memenuhi kebutuhan seseorang akan eksistensi diri. Pengguna dapat ‘mempromosikan dirinya’ secara bebas. Bagi yang sedang jalan-jalan ke luar negeri, atau sedang berlibur ke suatu daerah, mereka dapat langsung mengunggah foto-foto selfi-nya di FB. Foto-foto berlatar tempat tertentu diunggah si pengguna.

Bagi yang baru saja membeli mobil baru, langsung memasang gambar dirinya di depan mobil, atau dalam posisi ‘sedang menyetir’, atau ‘mencuci mobil’. Entah, saya tidak ingin berburuk sangka, apa yang ingin ditekankan pada si pengunggah. Apakah ingin menunjukkan ‘dia bisa menyetir’ atau ‘dia sedang mencuci mobil’, atau ada maksud tersembunyi, ingin menunjukkan ‘saya sudah punya mobil’.

Bagi yang suka masak, mereka dapat mengunggah hasil kreasi masakannya. Bagi yang suka berceramah, mereka menulis di dinding FB ‘kata-kata bijak penuh makna’ yang ia kutip dari media lain, atau mengutip ayat Al Quran, atau hadist.

FB juga menjadi sarana promosi. Promosi barang, hasil karya (artikel, buku, cerpen, atau yang lain) yang layak diketahui atau dibaca orang lain.

FB juga selalu mengingatkan para penggunanya bila ada teman yang sedang merayakan ulang tahun. Seketika itu pula, teman-teman kita berbondong-bondong mengucapkan selamat ulang tahun. Ada yang singkat (hanya menulis “HBD”, “met ultah”), ada pula yang bersemangat dengan menambahkan berbagai doa dan harapan. Bila kita dalam posisi “yang sedang ultah” kita wajar bila bertanya, “ikhlaskah mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepada kita?” Seandainya FB tidak memberitahu, akankah teman-teman kita tetap memberikan perhatian, alias apakah mereka masih mengingat tanggal lahir kita lalu mengucapkan selamat ulang tahun? Jawabannya mungkin hanya teman tertentu saja yang masih ingat.

Sifat orang juga dapat ditebak melalui FB. Ini dapat diketahui melalui statusnya atau melalui ‘perilaku mereka’ meskipun secara tidak langsung. Sebagai contoh, kita dapat menebak jikalau seseorang sedang ‘iri’ dengan temanya (atau bahkan dengan diri kita). Misalnya: bila temannya sedang mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan, ia tidak pernah memberikan komentar atau sekedar tag-like. Di sisi lain, dia sendiri sering menginformasikan di FB bahwa dirinya sedang dilanda bahagia karena sesuatu hal. Memang ini tidak dapat menjadi bukti, namun setidaknya, bila hal ini terjadi berulang kali, ini dapat menjadi indikasi bahwa seseorang tersebut ‘ada‘sesuatu’ dengan temannya.

Sama halnya dengan dunia nyata. Di FB juga dikenal “hukum-hukum dalam dunia nyata”. Orang yang tidak pernah memberikan komentar pada status teman-temannya, kadang kala, statusnya juga jarang dikomentari teman-temannya. Seolah-olah di FB ada hukum aksi reaksi, siapa memberi, dia akan menerima. Siapa memberi memberikan komentar, dia akan sering dikomentari. Bila saya perhatikan, ada teman-teman saya, ketika membuat status hampir tidak ada yang memberikan komentar. “Ada apa dengan si dia”. Memang, bila seseorang sering meng-up date status atau mengunggah foto, dapat menimbulkan ‘kebosanan’ bagi teman-temanya: “yang muncul di FB dia lagi, dia lagi…”. Orang akan malas mengomentari. Untuk itu, janganlah terlalu sering menulis status, atau mengunggah foto. Bila sering mengunggah foto selfi-nya, maka yang terjadi adalah kita dianggap narsis.

Dalam dunia nyata, orang yang sering up date status diibaratkan sebagai orang yang sering bertamu ke rumah orang lain. Bagaimana rasanya bila kita selalu didatangi orang-orang itu setiap hari. Apalagi bila ‘kedatangan’ dia hanya untuk memberikan informasi ‘yang ga penting banget’. Hanya memberi tahu ‘aku ngantuk’, ‘BT’, ‘banyak nyamuk’, dan lain sebagainya. Sekali lagi, menulis status apapun memang hak pemilik akun, tapi hormatilah ‘dinding’ orang lain. Janganlah terlalu sering meng-up date status yang tidak penting.

FB memang hanya dimiliki orang-orang dari golongan tertentu saja. Sebut saja pengguna FB hanya orang golongan menengah ke atas saja. Merekalah yang menguasi teknologi, sehingga mampu memanfaatkan FB untuk berinteraksi.

Muncul dalam pikiran saya, ketika orang-orang kelas bawah diberi kesempatan untuk menggunakan FB, kira-kira apa yang akan mereka tulis dalam statusnya? Atau foto apa yang akan mereka unggah? Saya tidak bermaksud merendahkan mereka, akan tetapi, saya ingin mengajak kita untuk berpikir sejenak, dan menengok teman-teman kita yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses FB. FB tetaplah barang asing bagi mereka. FB tetaplah barang mahal. Inilah yang disebut sebagai ‘teknologi hanyalah milik orang kaya’.

Paragraf terakhir ini hanyalah sebuah bahan renungan…

Posted in Ragam | No Comments »

Awas! penipuan berkedok sewa apartemen

January 18th, 2014 by Nanang Martono

Bagi penduduk di setiap negara, terutama negara maju, keberadaan apartemen merupakan kebutuhan yang sangat penting. Tak khayal, ratusan penduduk harus mengantri untuk mendapatkan apartemen yang sesuai dengan kemampuan finansial. Dan bagi keluarga, tipe apartemen harus sesuai dengan jumlah anggota keluarga.

Sebagai WNI yang sedang belajar di Kota Lyon (500 km selatan Paris), saya merasakan betul betapa susahnya mencari sebuah apartemen untuk keluarga di Lyon (dan tentu saja di kota-kota lain di Prancis), terutama untuk apartemen publik. Saya berencana membawa keluarga ke kota Lyon, untuk itu, saya harus mencari apartemen keluarga. Karena saya memiliki seorang anak, maka saya mencari apartemen tipe T3 (untuk 3 orang).

Apartemen publik memang lebih murah daripada apartemen prive atau swasta. Saya harus mengantri untuk mendapatkan apartemen publik. Meskipun mencari apartemen prive relatif lebih mudah, akan tetapi, juga tidak mudah untuk memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen. Kita harus ‘meneliti’ bagaimana akses transport publiknya, apakah dekat dengan sekolah (kalau kita punya anak), dekat dengan pusat perbelanjaan, ada lift atau tidak, dan sebagainya. Pokoknya, kita berusaha agar apartemen yang kita pilih memudahkan kita sebagai warga asing yang tinggal di negara lain.

Ketika mencari apartemen publik harus menunggu sangat lama (mengantri), maka pilihan sekanjutnya adalah mencari apartemen swasta. Saya berusaha mencari penawaran apartemen keluarga melalui situs www.leboncoin.fr (semacam www.tokobagus.com di Indonesia). Situs ini berisi berbagai informasi penawaran berbagai barang bekas maupun baru, termasuk apartemen dan rumah. Saya pun memanfaatkan situs ini.

Di leboncoin, ada dua bentuk penawaran apartemen, yaitu ‘particuliers’ dan ‘professioneles’. Yang pertama adalah penawaran individual, yaitu dari pemilik apartemen langsung. Yang kedua, adalah melalui agen swasta. Untuk yang kedua ini, pemohon apartemen akan dikenai ongkos jasa agen ketika kita berminat menempati sebuah apartemen yang mereka tawarkan (dalam hal ini, agen berfungsi semacam biro jasa alias calo resmi). Karena ada biaya jasa ini, maka harga yang ditawarkan melalui agen relatif lebih mahal.

Akan tetapi, di sisi lain, penawaran melalui agen ini cenderung lebih aman daripada penawaran individual. Apartemen yang ditawarkan secara individual berisiko mengandung penipuan. Penipuan berkedok penawaran apartemen bukanlah hal baru di Prancis. Mereka memanfaatkan teknologi canggih untuk menjalankan aksinya. Bagaimana modus penipuan ini? Berikut saya ceritakan pengalaman pribadi saya yang hampir menjadi korban penipuan berkedok penawaran apartemen ini.

Saya berencana membawa keluarga ke Prancis. Saya sudah mengajukan permohonan apartemen publik, namun karena lama tidak ada kabar, maka saya memutuskan mencari apartemen swasta. Suatu hari, saya mencari apartemen yang relatif agak murah. Dan saya pun akhirnya menemukan apartemen murah tersebut lewat leboncoin. Saya sebenarnya agak curiga, karena harga tersebut tidak rasional bila dilihat dari lokasi dan kondisi apartemen yang ditawarkan. Dalam penawaran, Mr. X mengunggah foto-foto apartemen yang sangat bagus. Tapi, kemudian, saya coba untuk menghubungi si pemilik melalui alamat email yang disediakan.

Keesokan harinya, Mr. X merespon email saya. Intinya dia mengucapkan terima kasih atas ketertarikan kita. Di email pertamanya tersebut, dia meminta identitas kita (nama, alamat, nomor telepon, mau kontrak berapa lama, dan meminta dokumen yang diperlukan) dan memberikan informasi selengkap mungkin mengenai kondisi apartemen tersebut, serta alasan mengapa apartemen tersebut disewakan dengan harga murah (biasanya alasannya adalah si pemilik akan pindah apartemen, tapi dia tidak ingin apartemen yang dia tinggalkan tersebut kosong). Bahkan Mr X juga sempat memberikan alamat apartemen tersebut. Tidak lupa, untuk menguatkan ketertarikan, Mr X juga mengirimkan foto-foto apartemen yang juga sangat lengkap.

Saya pun membalas email tersebut dan meminta janjian untuk melihat apartemen tersebut sebelum saya memutuskan untuk menyewa apartemen tersebut. Email kedua dari Mr X pun dikirim.

Dalam email keduanya ini, dia meminta kita untuk mengirimkan uang dengan jumlah tertentu terlebih dahulu (biasanya minimal 1x biaya sewa per bulan). Modusnya adalah, Mr X meminta kita mengirim uang lewat kantor pos (bukan bank, sekali lagi, bukan bank) sesegara mungkin. Fasilitas yang digunakan adalah menggunakan ‘mandat cash’ atau ‘depot postal’. Mandat cash adalah sistem pengiriman uang melalui kantor pos (tanpa membuka rekening bank), dan berkode. Artinya, untuk dapat mengambil uang tersebut, si penerima harus mengetahui nomor kode yang diberikan kantor pos kepada si pengirim.

Mr X menggunakan memilih mandat cash untuk menutupi kedok penipuannya. Alasannya, dia meyakinkan bahwa dengan mengirim lewat mandat cash, uang kita tetap aman. Sehingga Mr X meninta kita agar kita tidak memberitahu nomor kode dari pos tersebut. Dengan kata lain, mandat cash diposisikan sebagai ‘uang jaminan yang dititipkan di pos’.

Modusnya adalah, bila setelah melihat apartemen saya berminat dengan dengan apartemen tersebut, lalu saya menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, Mr X akan menyiapkan surat kontrak penyewaan, lalu saya tanda tangan. Kemudian, Mr X menyerahkan kunci apartemen, dan saya memberikan nomor kode mandat cash. Memang, modusnya cukup masuk akal. Dia meyakinkan saya bahwa uangnya saya aman di kantor pos, selama Mr X tidak tahu nomor kodenya. Dan sebaliknya, bila saya ternyata tidak berminat dengan apartemennya, uang saya di kantor pos dapat ditarik kembali.

Saya pun heran, karena mengapa harus menggunakan mandat cash? Apa bedanya dengan uang cash? Sebelumnya saya juga telah menawarkan untuk membayar dengan uang cash, tapi dia tetap menolak. Saya kemudian ‘berkonsultasi’ dengan beberapa mukimin (penduduk muslim di Lyon yang menikah dengan orang Indonesia). Lalu, salah satu di antara mereka mengontak Mr X via telepon (saya tidak berani mengontak karena keterbatasan bahasa prancis saya). Dan Mr X juga berusaha meyakinkan mukimin tersebut. Akhirnya, saya disarankan untuk memberikan mandat cash, tapi jangan memberika nomor kodenya.

Dua hari berikutnya, saya ke kantor pos bersama teman saya (yang fasih bahasa Prancis-nya). Saya mengisi formulir, dan setelah nomor antrian dipanggail, saya datang menuju kasir. Sebelumnya, teman saya bertanya pada Mrs pos, ‘apakah mandat cash bisa dibatalkan?’. Mrs Pos lalu bertanya, ‘mengapa dibatalkan?’. Teman saya pun bilang yang intinya uang tersebut akan digunakan untuk jaminan penyewaan apartemen.

Seketika, Mrs Pos bilang, ‘ini penipuan!’. Prosedur menyewa apartemen bukan seperti ini. Uang harus diberikan setelah ada kontrak. Dan dia bilang 15 hari yang lalu juga ada kasus serupa, dan seseorang telah kehilangan uangnya yang dia kirim melalui mandat cash dengan motif yang sama (untuk jaminan sewa apartemen). Meskipun Mr X tidak tahu nomor kodenya, namun dia bisa ‘menjebol’ nomor kode mandat cash tersebut melalui berbagai cara. (dalam hati, canggih juga nih modusnya, lebih canggih daripada pencurian PIN ATM).

Saya pun mendapatkan pencerahan, dan semakin yakin bahwa ini adalah penipuan. Untung Mrs Pos baik hati, menjelaskan panjang lebar dan mencegah saya untuk mengirim mandat cash.

Menurut saya, ada dua kemungkinan cara Mr X membobol nomor kode. Mereka menggunakan teknologi tertentu, atau mereka berkolaborasi dengan oknum pegawai pos.

Inilah sedikit pengalaman saya. Dan untuk meyakinkan pembaca, berikut saya kutipkan email dari Mr X yang masih tersimpan di inbox email saya:

—————————-

Je vous en remercie pour le vif intérêt que vous portez à notre appartement et je vous confirme qu’âpres lecture de votre dossier nous sommes d’accord que vous soyez notre nouveau locataire car j’avoue que votre profil nous plait énormément mais par contre nous aimerions vous dit que nous sommes disponible pour vous faire la visite ce SAMEDI 18 JANVIER à 18 Heures dans la Rue Paul Verlaine, 69100 Villeurbanne. Comme précédemment expliqué je ne veux pas la laisser inoccupée raison pour laquelle elle a été mise en location donc la durée du bail sera celle qui vous conviendrait et peut même dépasser 5 ans. Le jour de la visite je serai en possession du titre de propriété et du contrat de bail que vous allez signé si notre appartement vous convient.

Lors de la visite et signature du contrat de bail vous devriez fournir comme documents :

- Une copie de votre pièce d’identité (carte d’identité ou passeport en court de validité)

- 3 dernières quittances de loyer de votre précédente location (si vous étiez en location)

- 3 dernières bulletins de salaire (si vous êtes salarié )

- Dépôt de Garantie : 530 euros (1 mois de caution)

VOILA LA DERNIÈRE DÉMARCHE OBLIGATOIRE A SUIVRE POUR QUE LA VISITE SE PASSE COMME PRÉVUE !

Pour que la visite se passe le SAMEDI comme prévue , une dernière formalité obligatoire reste à remplir pour nous garantie que vous êtes réellement intéressé et que vous êtes prêt financièrement pour la location de notre appartement car la semaine dernière nous nous somme déjà fait déplacer pour rien par une dame mais ce dernière n’étais pas au rendez-vous et une autre dame et elle n’étais pas prêt financièrement pour la location vu qu’elle est fortement intéressé par notre appartement donc nous voulons pas que cela reprenne. Dès l’instant vous préparez tous vos dossier et pour ce qui est du dépôt de garantie d’un mois de caution (530€) qui est remboursable une fois que vous serez disponible à quittez notre appartement et qui permettra la remise des clés et la signature du contrat de bail se fera uniquement par un reçu de dépôt postal que vous allez ramené a la visite ainsi que tous vos dossier .

I- QU’EST CE QU’UN DÉPÔT POSTAL !

Le DÉPÔT POSTAL n’est pas un paiement sans avoir visité le logement NON , mais un dépôt de fonds auprès de la poste dans le seul but de  remettre à quelqu’un , c’est une méthode fiable de paiement de part sa rapidité, sa sécurité et sa confidentialité , il vous permet d’éviter de vous déplacer avec des chèques de banque ou du liquide et d’éviter également tous les problèmes qui y sont relatifs (Pertes, vol, chèques sans provisions ).

II- COMMENT SE FAIT UN DÉPÔT POSTAL !

POUR EFFECTUER UN DÉPÔT POSTAL ! Il faut simplement vous rendre dans un bureau de Poste la plus proche de chez vous muni d’une pièce d’identité et aussi de mes coordonnée que je vais vous transmettre dans mon prochain message et vous demandez a effectuer un dépôt postal de 1 mois de caution (530 €).

APRES CETTE OPÉRATION ! la postiere vous remettra un reçu original comportant des CODES CONFIDENTIEL Indispensable aux retrait des fonds déposé que vous auriez à garder jalousement avec vous et c’est seulement après la visite et la signature du contrat de bail faisant de vous le nouveau locataire si notre appartement vous convient que vous allez nous remette le reçu original du dépôt postal avec les CODES CONFIDENTIEL afin que nous puissions passer a la poste retirez les fonds déposé . Dans le cas contraire si notre appartement ne vous intéresse pas , vous pourrez vous retournée a la poste pour annuler le dépôt postal et vous faire remboursé vos fonds grâce au reçu original du dépôt postal.

NOTEZ BIEN QUE L’ECHANGE “ Reçu original du dépôt postal contre clés de l’appartement ” n’aura lieu que si vous êtes satisfait par la visite au cas contraire si l’appartement ne vous convient pas vous pourrez vous retournée a la poste pour annuler le dépôt postal et vous faire remboursé vos fonds grâce au reçu original du dépôt postal. Ce sont là en quelque sorte une garantie de ma part et une réservation pour la vôtre et ce qui me permettra de me rassurer de votre bonne foi .

A LA FIN DE LA VISITE ! si notre appartement vous convient , j’établirai un contrat de bail selon votre durée de bail (6 mois , 1 an ou plus) et je vous remettrai les clés en plus du contrat que vous allez signer ensuite vous me remettez le reçu original du dépôt postal .La visite peut se faire le SAMEDI et ceci lorsque vous m’aurez confirmé que vous disposez du reçu du dépôt postal

Si mes démarches vous convient , j’attends votre accord afin que je puisse vous envoyez mes coordonnées sur lesquelles vous allez préparez le dépôt postal que vous allez ramenée a la visite ainsi que tous vos dossier complet.

Je suis joignable au 07**22**50 ou envoyez moi un sms je vous rappel.

Merci veuillez recevoir nos salutations les plus distinguées.

Mr et Mme JA***ER

Envoyé de mon iPhone

—————————-

Agar lebih berhati-hati, berikut ini adalah prosedur yang lazim (dan benar) dilakukan ketika akan dilakukan transaksi sewa menyewa apartemen:

  • Calon penyewa menghubungi pemilik apartemen (perseorangan atau agen).
  • Pemilik apartemen mempersilakan calon penyewa untuk melihat apartemennya terlebih dahulu. Untuk perseorangan, biasanya dia akan menawarkan waktu kunjungan ke apartemen, sedangkan untuk agen, mereka akan memberikan kunci apartemen (kartu identitas kita ditinggal di agen untuk jaminan). Kita dipersilakan melihat apartemen sendiri dengan kunci dan nomor kode masuk yang telah diberikan agen.
  • Ketika kita berminat, kita diminta melengkapi dokumen, seperti: foto kopi kartu identitas, surat keterangan penghasilan atau beasiswa, rekening bank, dll.
  • Ketika semuanya lengkap, pemilik akan menyaiapkan surat kontrak sewa menyewa, lalu kita tanda tangani.
  • Barulah kita memberikan uang (bisa dengan tunai atau penarikan uang di rekening secara otomatis).

Jadi, intinya, tidak ada uang sebelum kontrak ditandatangani.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

Posted in Ragam | No Comments »

Dunia yang Berbeda

December 26th, 2013 by Nanang Martono

Gay. Ketika mendengar istilah ini, sebagian besar masyarakat kita akan serta merta memvonis dengan sebutan “dosa”, “haram”, “abnormal”, dan sebutan lain untuk mengucilkan “penderita” homoseksual. Homoseksual menurut agama (Islam) memang merupakan sebuah dosa dan hukumnya haram. Manusia diciptakan menjadi dua jenis, laki-laki dan perempuan, agar mereka dapat saling melengkapi. Mereka diciptakan untuk menciptakan keturunan mereka, yang akan melanjutkan generasi mereka di masa yang akan datang.

2013-05-15T083235Z_596474694_GM1E95F19TE01_RTRMADP_3_KOREA-GAY-MARRIAGE

Fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan transeksual) bukanlah sebuah fenomena baru. Meskipun demikian pandangan atau persepsi masyarakat mengenai fenomena ini seolah sulit diubah. Mereka masih memosisikan LGBT sebagai kelompok yang harus dijauhi karena dianggap dapat merusak mental generasi berikutnya.

Institusionalisasi LGBT secara “formal” dimulai di negara-negara Barat yang cenderung liberal. Mereka mengatasnamakan HAM (Hak Azasi Manusia) untuk melegalkan keberadaan LGBT ini. Dan bahkan, beberapa negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis dalam hukum positif mereka. Di Indonesia, tentu saja upaya ini akan ditentang sangat keras, meskipun ada banyak pihak yang menyuarakan tentang pengakuan HAM. Namun, penulis tidak bermaksud untuk meminta pemerintah kita melakukan langkah yang sama.

Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan beberapa pesan moral mengenai keberadaan LGBT ini, terutama dalam konteks Indonesia secara sosiologis.

Normalitas Relatif

Mereka yang sekarang menjadi gay atau lesbi, sebenarnya bukanlah keinginan mereka sendiri. Ada yang disebabkan pengalaman psikologis (misalnya: pernah disakiti lawan jenis), atau mereka mengalami kelainan hormonal. Secaa fisik mereka laki-laki, namun secara hormonal mereka dominan perempuan, atau sebaliknya. Sehingga, perilaku mereka menjadi “berbeda” dengan individu “normal”. Inilah yang kemudian menyebabkan mereka dipandang “abnormal”.

Abnormalitas di sini memang bermakna subjektif, karena yang menilai “normal” dan “tidak normal” adalah “orang normal”. Stereotipe LGBT adalah “abnormal” justru akan membuat mereka semakin terpinggirkan, yang kemudian memotivasi mereka membentuk sebuah kelompok sendiri yang “normal” menurut mereka. Mereka hidup dalam dunia mereka sendiri, jauh dari kehidupan orang-orang yang mengklaim dirinya “normal”. Sementara kelompok “normal” juga hidup dalam komunitasnya dan semakin jauh dengan LGBT.

LGBT bersifat sosial

Masalah LGBT bukanlah masalah bagi “si penderita”, melainkan masalah sosial yang melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Artinya, untuk meminimalisasi kecenderungan berkembangnya jumlah LGBT, diperlukan peran aktif masyarakat secara umum. Pada hakikatnya, tidak ada orang yang “bercita-cita” untuk menjadi seorang gay ataupun lesbian. Mereka sebenarnya hanyalah “korban” masalah mental, psikologis, dan biologis.

Tindakan masyarakat yang menjauhi kelompok gay dan lesbian sebenarnya menyebabkan penderitaan mereka semakin panjang. Mereka sebenarnya perlu bergaul dengan individu “normal”. Interaksi sosial antara mereka dan individu “normal” dapat mengurangi beban penderitaan mereka.

Kaum gay dan lesbi memerlukan interaksi sosial dengan masyarakat luas dalam upaya “menyembuhkan” kelainan orientasi seksual mereka. Mereka memerlukan terapi karena gay dan lesbian bukanlah sebuah penyakit. Ia hanyalah sebuah gangguan kejiwaan yang dapat disembuhkan melalui serangkaian terapi psikologis.

Klaim kebenaran

Masyarakat “normal” selalu mengolok-olok gay dan lesbi dengan gelar “dosa”, “penghuni neraka”, dan segudang gelar negatif lainnya. Mereka seolah tidak sadar apakah seorang yang “normal” adalah orang yang jauh dari dosa? Apakah mereka juga yakin bahwa mereka adalah calon penghuni surga yang mampu mengalahkan gay dan lesbian?

Individu “normal” seolah lupa bahwa dosa, surga, dan neraka adalah urusan Tuhan. Kita tidak dapat mengklaim diri kita akan masuk surga, sedangkan mereka dijamin masuk neraka (?) Inilah yang patut menjadi bahan pembicaraan.

Justru orang-orang yang tidak bersimpati dengan gay dan lesbian adalah orang-orang yang tidak bermoral. Mereka telah membiarkan saudaranya terus terjerumus dalam “perilaku negatif” tanpa berupaya untuk mengubah kondisi mereka. Dan bahkan, mereka dengan sengaja mengucilkan mereka dari “lingkungan sosial yang normal”.

Sedikit tulisan ini mudah-mudahan dapat membuka mata hati kelompok “normalis” agar lebih bijak dalam memandang dan menyikapi keberadaan kaum gay dan lesbian. Satu yang pasti, tidak ada manusia di bumi ini yang ingin lahir menjadi gay dan lesbian.

Posted in Ragam | No Comments »

Asal Mula Toga dan Topi Wisuda

December 26th, 2013 by Nanang Martono

Wisuda selalu menjadi momentum spesial bagi kamu yang menempuh kuliah. Meski seremonial, segala atribut yang berkaitan dengan itu pasti berkesan sakral, salah satunya toga. Baju longgar berwarna hitam itu mirip baju kebanggaan. Padahal, baju bernuansa akademis itu itu nggak modis, kan?

toga-hi

Rupanya, meski aneh, baju toga mempunyai cerita sejarah yang panjang, lo. Berasal dari kata ”tego”  dari bahasa Latin, pakaian satu ini dekat dengan masyarakat Romawi. Awalnya, toga adalah sejenis jubah yang dikenakan oleh pribumi Italia sejak 1200 SM. Kala itu, bentuknya berupa kain sepanjang enam meter yang dililitkan ke tubuh. Hm, walau nggak praktis, toga adalah satu-satu­nya pakaian yang dianggap pantas mereka kenakan di luar ruangan.

Setelah digunakan oleh bangsa Romawi, toga menjadi berupa sehelai mantel wol tebal. Busana ini ditanggalkan jika pemakainya berada di dalam ruangan. Tapi, kelamaan, penggunaan toga sebagai busana sehari-hari semakin ditinggalkan masyarakat. Bentuk toga dimodifikasi menjadi sejenis jubah dan malah menjadi pakaian resmi seremonial, salah satunya acara wisuda.

Nah, soal mengapa topi wisuda berbentuk bujur sangkar, juga ada ceritanya, lo. Di negara Barat, kostum kelulusan disebut gown dan topinya disebut mortarboard. Banyak yang bilang, mortarboard merupakan pengembangan dari biretta, topi para pendeta Katolik Roma. Dahulu di Romawi, topi biretta adalah ciri bagi kalangan pelajar, akademik, seniman, dan kaum humanis.

Tahun 1950, mortarboard dipatenkan oleh penemunya dari Amerika Serikat, Edward O Reilly dan Joseph Durham. Sejak pengesahannya, model mortarboard alias topi wisuda adalah seperti yang kita lihat sekarang ini.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/12/22/247062/Tentang-Toga-dan-Topi-Wisuda

Posted in Ragam | No Comments »

Kado Akhir Tahun untuk Dosen

December 23rd, 2013 by Nanang Martono

Tahun 2013 segera berakhir. Seperti biasa, ritual tutup tahun diisi banyak agenda menyambut tahun baru. Setiap orang telah memiliki berbagai harapan yang ingin diraih di tahun depan.

Bagi dosen Indonesia, masa akhir tahun ini dikejutkan dengan kado tutup tahun dari pemerintah. Saat ini dosen sibuk membuka dua kado istimewa: Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 88 Tahun 2013 dan Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen (SIPKD). Dua kado ini bukan membuat dosen Indonesia tersenyum bahagia, melainkan mereka harus berjibaku dengan serangkaian masalah dan “pekerjaan tambahan” yang sia-sia. Dua kado tersebut akan diuraikan dalam tulisan ini.

Perpres 88/2013

Pada 11 Desember 2013 pemerintah telah mengesahkan Perpres 88/2013 yang mengatur mengenai Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Pada pasal 3.1.f. Perpres ini menyatakan bahwa dosen dikecualikan sebagai penerima Tunjangan Kinerja di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan kata lain, dosen tidak berhak menerima Tunjangan Kinerja dari pemerintah.

Lahirnya Perpres 88/2013 ini menunjukkan ketidakadilan pemerintah terhadap profesi dosen di bawah Kemendikbud.  Padahal di saat yang sama dosen-dosen di Indonesia dituntut untuk memacu produktivitas dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi agar dunia pendidikan tinggi Indonesia dapat berkompetisi di tingkat internasional.

Tidak ada alasan pasti yang mendasari mengapa dosen tidak diberi tunjangan kinerja. Namun, hal ini diduga karena dosen telah mendapatkan insentif yang sangat besar (dalam pandangan pemerintah) yang diperoleh melalui serdos (sertifikasi dosen). Dengan adanya serdos, pemerintah menilai tingkat kesejahteraan dosen telah meningkat dari sebelumnya.

Penghapusan tunjangan kinerja ini dinilai tidak adil karena hanya berlaku bagi dosen di bawah naungan Kemendikbud. Sedangkan dosen yang bernaung di bawah kementerian lain tetap mendapatkan tunjangan ini.

Serdos berbeda dengan tunjangan kinerja. Pertama, serdos diperoleh melalui “sistem seleksi”. Dan sampai saat ini, masih banyak dosen yang belum mendapatkan serdos ini. Besaran tunjangan serdos adalah sama untuk setiap dosen yang telah lulus serdos, yaitu sebesar satu kali gaji pokok. Hal ini menunjukkan bahwa serdos bukan didasarkan pada “kinerja” melainkan pada “status”: “serdos” dan “belum serdos”. Kinerja dosen yang telah serdos tentu saja adalah sama.

Serdos bermasalah

Serdos yang digulirkan pemerintahan SBY sejak awal telah mengandung permasalahan. Pertama, proses seleksi bukan didasarkan pada kinerja, melainkan “urut usia” alias “urut kacang”. Dosen senior di sebuah PT (Perguruan Tinggi) akan diserdos terlebih, sedangkan dosen junior harus antri. Ini artinya serdos syarat dengan feodalisme, yang tua didahulukan daripada yang muda, tanpa melihat kinerja dosen muda.

Kedua, proses seleksi serdos sangat rentan manipulasi data dan membuka kesempatan dosen untuk tidak jujur. Untuk mengikuti seleksi serdos dosen hanya diminta menulis DD (deskripsi diri). Dalam DD, dosen menceritakan “kinerjanya” selama beberapa tahun ke belakang. Dengan kata lain, DD merupakan sarana dosen untuk berperilaku “narsis”, dan membuat DD sebaik mungkin agar menarik perhatian penilai.

Ketiga, proses evaluasi serdos yang dilakukan setiap tahun sekali tidak mengevaluasi kinerja dosen secara utuh, melainkan hanya formalitas. Hal ini disebabkan sistem pelaporan BKD (Beban Kerja Dosen) hanya dilakukan dengan instrumen kuantitatif. Dosen cukup melaporkan: jumlah mata kuliah, jumlah tatap muka, jumlah SKS, jumlah mahasiswa peserta, jumlah penelitian, jumlah publikasi jurnal, jumlah kegiatan pengabdian masyarakat, dan data kuantitatif lainnya.

Dengan alat ukur ini, maka dosen yang asal-asalan bekerja tidak pernah terkontrol dan tetap mendapatkan tunjangan serdos. Bagi yang mereka yang penting adalah kuantitas, bukan kualitas. Bila kondisinya seperti ini, maka masih layakkah serdos diklaim sebagai bukti peningkatan kinerja dosen?

SIPKD

Kado berikutnya adalah kewajiban mengisi SIPKD. SIPKD diluncurkkan dengan dalih untuk mengontrol kinerja dosen selama beberapa waktu terakhir. Ini adalah kado dadakan yang dikirimkan Dikti secara online, pasalnya dosen Indonesia hanya diberi waktu satu bulan untuk melaporkan “kinerjanya”.

Permasalahan utama sebenarnya bukan pada masalah jangka waktu pengisian, namun pada data yang harus diisikan secara online. Data tersebut selalu diminta Dikti setiap tahun, padahal seharusnya Dikti sudah memunyai data tersebut tanpa harus meminta informasi pada dosen yang bersangkutan. Data tersebut di antaranya adalah: tempat dan tanggal lahir, tanggal mulai diangkat CPNS dan PNS, riwayat pendidikan, tanggal kenaikan pangkat, alamat PT, mata kuliah pokok, dan data lainnya.

Inilah adalah kado yang membuang waktu efektif dosen karena dosen harus membuka banyak dokumen. Ini menunjukkan bahwa sistem informasi “online” Dikti sangat kacau. Dikti tidak memiliki database yang siap dibuka kapan saja, tanpa harus mengancam dosen yang tidak mengisinya.

Kemudian, pada tahun ini, pelaporan harus disertai dengan hasil scan semua dokumen pendukung, salah satunya absen kuliah. Ini memerlukan waktu yang lama. Belum lagi masalah koneksi internet yang sangat lambat juga menjadi kendala saat pengisian. Masalahnya adalah, bila dosen selesai mengisi dan mengunggah semua dokumen, lalu data tersebut akan digunakan untuk apa? Mungkinkah Dikti membuka dokumen yang telah diunggah satu per satu? Jawabannya “mustahil”.

Tulisan ini mengisyaratkan dua hal. Pertama, pemerintah harus segera merumuskan sistem pengawasan kinerja dosen, dan bukan kinerja secara kuantitatif saja. Kedua, pemerintah harus segera mengatasi kekacauan arsip kepegawaian, agar setiap tahun mereka tidak harus meminta data yang sama kepada dosen.

Posted in Ragam | No Comments »

Sekolah, Milik Siapa?

December 10th, 2013 by Nanang Martono

Sekolah, Milik Siapa? -Opini Republika

Posted in Ragam | No Comments »

Sosiologi Perubahan Sosial -Revisi 2014

December 10th, 2013 by Nanang Martono

Sosiologi Perubahan Sosial -Edisi Revisi 2014

Posted in Sosiologi Perubahan Sosial | No Comments »

Mitos Sekolah Favorit

July 4th, 2013 by Nanang Martono

republika_20130704

MITOS SEKOLAH FAVORIT

Posted in Ragam | No Comments »

Eksklusi Buku – Hari Buku Nasional

May 18th, 2013 by Nanang Martono

Republika18052013_hal6

Eksklusi Buku – naskah asli

Posted in Ragam | No Comments »

« Previous Entries